1.4 C
New York
Selasa, Maret 3, 2026

Buy now

spot_img
Beranda blog Halaman 3

Bah Sipit Nongkrong di AsMEN, Kopi Legendaris Rasa Kemerdekaan

0

Indonesia Sakti, Kota Bekasi – Kalau kamu pecinta kopi tradisional, bukan yang sekadar estetik buat Insta Story, nama Bah Sipit pasti pernah mampir di telinga. Atau bahkan, pernah kamu seruput sambil menikmati pagi yang tenang. Tapi tahukah kamu, kopi ini bukan sekadar hitam dan pahit?

Kopi Bah Sipit bukan hanya legendaris di lidah, tapi juga dalam sejarah. Lahir dari kedai sederhana di Empang, Bogor, racikan kopi ini dulunya menemani para pejuang kemerdekaan. Ya, betul. Pejuang. Bukan content creator.

Dari Empang ke AsMEN

Kehadiran kopi ini kini makin meluas, termasuk masuk ke kalangan wartawan dan pekerja media. Salah satunya di Studio Asistensi Media Nasional (AsMEN), tempat berkumpulnya pengusaha pers dan pegiat media di Indonesia.

Dalam gelaran Uji Kompetensi Wartawan (UKW) bersama LUKW FIKOM Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) pada 7–8 Agustus 2025, Bah Sipit jadi bintang di luar spotlight. Diseduh panas-panas, jadi teman setia para peserta UKW yang tengah jungkir balik menjawab soal dan simulasi wawancara.

M. Adhie Pamungkas, salah satu peserta, bahkan mengaku ‘jatuh cinta pada seduhan pertama’. “Pas di lidah,” katanya. Kopi ini bukan cuma minuman, tapi “sahabat di kala stres ujian.”

Kisah kopi ini dimulai hampir satu abad lalu, tepatnya tahun 1925. Didirikan oleh Yoe Hong Keng, keturunan Tionghoa yang bermukim di kawasan Arab, Empang—sebuah melting pot budaya di Bogor.

Nama “Bah Sipit” bukan branding agensi, tapi lekat pada penampilan fisik Yoe yang bermata sipit. Sederhana dan jujur.

Yang menarik, logo kacamata legendarisnya ternyata dirancang oleh sahabat karibnya, Muhammad bin Ahmad Balweel, seorang keturunan Arab. Kolaborasi dua budaya ini lah yang menjadikan Bah Sipit bukan sekadar kedai, tapi simbol persatuan dalam keberagaman—bahkan jauh sebelum istilah itu viral.

Kalau kamu pikir semua kopi sachet itu asli, coba cicip Bah Sipit. 100% kopi murni, tanpa perisa, tanpa filler, tanpa drama.

Biji kopinya dipetik dari kebun-kebun di Megamendung, kawasan pegunungan yang terkenal sejuk dan subur. Racikan antara Robusta yang tegas dan Arabica yang aromatik, disangrai gelap (dark roast), menciptakan rasa yang pekat, pahit mantap, dan sedikit asam di ujung lidah.

Cara penyajiannya pun fleksibel: dari gaya tubruk tradisional, V60 kekinian, sampai varian kopi botolan ready-to-drink ala anak nongkrong. Bahkan, ada juga versi Vietnam drip buat kamu yang suka gaya slow brew tapi nendang.

Kini Bah Sipit dikelola oleh generasi ketiga, Nancy Wahyuni, yang sukses merawat nilai-nilai tradisi sekaligus membuka ruang inovasi. Kedainya masih mempertahankan aura tempo dulu: etalase kayu jati, lantai ubin kolonial, dan atmosfer hangat yang bikin betah duduk lama.

Bah Sipit bukan cuma tempat ngopi, tapi juga arsip hidup sejarah kota, tempat di mana obrolan tentang perjuangan, keluarga, politik, bahkan cinta pertama pernah mengalir bersama aroma kopi.

Di tengah dunia kopi yang makin komersil dan ‘berisik’, Bah Sipit tetap tenang di jalurnya: menyeduh sejarah, budaya, dan kehangatan dalam tiap cangkir.

Masuknya Bah Sipit ke AsMEN bukan soal branding, tapi pengakuan. Bahwa kopi ini memang punya tempat—di lidah, di hati, dan di ruang-ruang yang terus bergerak menjaga nalar publik.

Karena, di balik rasa pahit kopi ini, ada cerita manis yang tak pernah usang.*

Bela Negara Sebagai Pilar Ketahanan Nasional: Kemhan Perkuat Fondasi Ideologis Bangsa Melalui Pembinaan di Kota Madiun

0

Madiun, 31 Juli 2025 — Dalam rangka memperkuat ketahanan nasional yang berlandaskan karakter, ideologi, dan kesadaran kolektif warga negara, Kementerian Pertahanan Republik Indonesia melalui Direktorat Bela Negara, Direktorat Jenderal Potensi Pertahanan (Ditjen Pothan) yang dipimpin oleh Brigjen TNI G. Eko Sunarto, S.Pd., M.Si., menyelenggarakan kegiatan strategis bertajuk “Pembinaan Kesadaran Bela Negara bagi Lingkup Masyarakat” di Kota Madiun, Jawa Timur.

Kegiatan ini merupakan manifestasi nyata dari amanat Peraturan Presiden Nomor 115 Tahun 2022 tentang Kebijakan Pembinaan Kesadaran Bela Negara, sekaligus bentuk respons adaptif Kemhan terhadap berbagai bentuk ancaman nonmiliter yang tengah menggerus sendi-sendi ideologis, sosial, dan kultural bangsa.

Acara ini turut dihadiri oleh Wali Kota Madiun, Dr. Drs. H. Maidi, S.H., M.M., M.Pd., bersama seluruh jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam memperluas ekosistem bela negara ke tataran masyarakat sipil.

Menjawab Tantangan Asimetris: Bela Negara dalam Dimensi Kontemporer

Dalam sambutannya, Brigjen TNI G. Eko Sunarto, S.Pd., M.Si., selaku Direktur Bela Negara Ditjen Pothan Kemhan menyampaikan bahwa kesadaran bela negara saat ini tidak lagi dapat dipahami secara sempit sebagai upaya militeristik. Sebaliknya, ia merupakan bentuk pertahanan ideologis dan kultural yang bertumpu pada kekuatan moral serta kecerdasan warga negara.

“Bela negara adalah investasi jangka panjang dalam membangun karakter bangsa yang resilien. Ia adalah proses kolektif untuk membentengi diri dari infiltrasi nilai asing yang mengancam keutuhan bangsa,” ujar Brigjen Eko.

Ia menekankan bahwa berbagai bentuk ancaman kontemporer seperti radikalisme, penyalahgunaan narkotika, kejahatan siber, disinformasi digital, hingga disorientasi identitas budaya, merupakan tantangan nyata yang membutuhkan respons sistemik dan strategis.

Dalam konteks teori pertahanan nonkonvensional, fenomena ini dikenal sebagai bentuk “hybrid threats” atau ancaman hibrida, yang tidak menyerang negara secara fisik, melainkan membidik kesadaran kolektif masyarakat — melemahkan nasionalisme, memecah persatuan, dan mengikis identitas ideologis.

Kota Madiun sebagai Miniatur Ketahanan Lokal

Wali Kota Madiun, Dr. H. Maidi, dalam sambutannya menekankan bahwa kegiatan pembinaan bela negara ini menjadi momentum penting bagi penguatan fondasi sosial dan kultural di daerah. Menurutnya, pengarusutamaan nilai-nilai bela negara adalah strategi pertahanan akar rumput yang sangat relevan dengan konteks demokrasi dan globalisasi saat ini.

“Di tengah derasnya arus globalisasi dan penetrasi budaya asing, bela negara adalah pondasi dalam menjaga keutuhan sosial dan semangat kolektivitas. Kami menyambut baik sinergi dengan Kemhan, sebagai bentuk kerja sama yang tidak hanya simbolik, tetapi sangat strategis,” ungkap Wali Kota.

Dalam kegiatan yang berlangsung selama satu hari ini, sejumlah narasumber dari berbagai instansi berperan penting dalam menyumbangkan gagasan substantif dan perspektif strategis guna memperkaya nilai kebangsaan. Sesi pembukaan diawali oleh Dr. S.R.M. Indah Permata Sari, S.T., M.M. dan Letkol Arm M. Tatrang, S.Sos., M.M., yang menyampaikan materi bertajuk Sejarah Bangsa Indonesia dan Nilai-Nilai Dasar Bela Negara. Materi ini menekankan pentingnya pemahaman historis dan penginternalisasian nilai-nilai dasar sebagai fondasi ideologis dalam membangun kesadaran nasional yang berkelanjutan. Selanjutnya, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Madiun memberikan paparan yang menyoroti urgensi kearifan lokal sebagai instrumen pertahanan budaya yang efektif. Dalam konteks ketahanan ideologis, kearifan lokal tidak hanya berfungsi sebagai warisan tradisi, tetapi juga sebagai mekanisme sosial yang memperkuat identitas kebangsaan serta membentuk daya tangkal terhadap penetrasi nilai-nilai asing yang berpotensi mereduksi nasionalisme.

Mengakhiri rangkaian diskusi tematik, AKBP Lilik Dewi Indarwati, AML., S.H., M.M. dari Badan Narkotika Nasional (BNN) memaparkan isu strategis terkait ancaman narkotika yang semakin kompleks dan sistemik. Ia menekankan bahwa narkotika bukan hanya persoalan kriminalitas, tetapi merupakan bentuk ancaman multidimensi yang dapat mengganggu stabilitas sosial, melemahkan kualitas sumber daya manusia, dan merusak keberlangsungan generasi muda sebagai pilar keberlanjutan pembangunan nasional.

Membangun SDM Tangguh, Literat, dan Berkebangsaan

Kegiatan ini dirancang tidak hanya sebagai sosialisasi, tetapi sebagai sarana kaderisasi nilai-nilai bela negara. Konsep pembinaan kesadaran bela negara yang ditawarkan Kemhan bersifat transformatif tidak sekadar informatif dengan tujuan membentuk Sumber Daya Manusia (SDM) yang ideologis, kritis, dan adaptif terhadap tantangan zaman.

Kelima nilai dasar bela negara yang terdiri dari: cinta tanah air, kesadaran berbangsa dan bernegara, setia kepada Pancasila sebagai ideologi negara, rela berkorban untuk bangsa dan negara, serta memiliki kemampuan awal bela negara, ditegaskan sebagai landasan moral dan etis yang harus dijadikan pedoman dalam setiap lini kehidupan, baik sosial, politik, maupun profesional.

“Hari ini kita tidak hanya butuh SDM cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara ideologis. Literasi digital, ketahanan budaya, dan pemahaman kontekstual terhadap Pancasila harus menjadi kompetensi dasar setiap warga negara di era disrupsi ini,” tegas Brigjen Eko.

Sinergi Nasional-Lokal sebagai Pilar Sistem Pertahanan Semesta

Kegiatan ini memperlihatkan bahwa strategi pertahanan negara tidak bisa hanya dijalankan secara sentralistik. Pendekatan “Total Defense” atau Sistem Pertahanan Semesta yang diusung oleh Kemhan menekankan pentingnya keterlibatan lintas sektor dan seluruh komponen bangsa.

Sinergi antara pusat dan daerah yang tergambar dari kehadiran unsur Forkopimda Kota Madiun menjadi bukti nyata bahwa bela negara bukanlah tanggung jawab eksklusif aparat pertahanan dan keamanan, tetapi proyek nasional bersama.

“Dalam dunia yang makin tanpa batas, bela negara adalah tugas lintas batas—melibatkan keluarga, sekolah, organisasi masyarakat, dan sektor privat. Semua harus bergerak bersama,” pungkas Brigjen Eko.

Penutup: Bela Negara sebagai Agenda Peradaban

Lebih dari sekadar program, bela negara adalah agenda peradaban. Ia adalah jawaban atas krisis eksistensial bangsa di tengah arus global yang kerap mengaburkan batas antara kebenaran dan propaganda, antara kepentingan nasional dan infiltrasi nilai asing.

Kementerian Pertahanan menegaskan komitmennya untuk terus memperluas cakupan pembinaan kesadaran bela negara ke seluruh wilayah Indonesia, guna mewujudkan masyarakat sipil yang tangguh, berkarakter, dan siap menjadi garda depan dalam menjaga keutuhan NKRI.

Pentingnya Kolaborasi untuk Perlindungan Anak di Era Digital: Yayasan Rindang Indonesia Sambangi Kantor Google Indonesia

0

Indonesia Sakti, Jakarta Selatan — Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional 2025, Yayasan Rindang Indonesia berkesempatan untuk hadir dalam kegiatan Diskusi Publik bertema “Kebijakan dan Kolaborasi Pelindungan Anak di Era Digital” yang diselenggarakan oleh ICT Watch bersama mitra CSO dan lembaga terkait, di Kantor Google Indonesia, Jakarta Selatan, Kamis (24 Juli 2025).

Kegiatan ini menghadirkan pembicara dari empat lembaga kunci: Tuaman Manurung (Kominfo–Kemkomdigi), Fitra Andika Sugiyono (KPPPA), Oviani Fathul Jannah (ECPAT Indonesia), dan Andri Kusumo (Google Asia Pacific).

Diskusi berfokus pada tantangan dan solusi perlindungan anak di ruang digital, khususnya dalam konteks kebijakan baru yaitu PP TUNAS (Pelindungan Anak di Era Digital).

Yayasan Rindang Indonesia, yang selama ini fokus pada pembinaan anak-anak usia remaja melalui pendidikan, menilai bahwa isu ini sangat relevan dengan aktivitas pendampingan yang dilakukan setiap hari.

Anak-anak kini tidak hanya rentan secara sosial, tetapi juga menghadapi risiko di ruang digital—sehingga diperlukan perhatian khusus dan keterlibatan aktif dari semua pihak.

Dalam paparannya, Tuaman Manurung, Ketua Subtim Penyusun Regulasi Kemkomdigi, menjelaskan bahwa PP TUNAS telah menetapkan tiga kriteria usia untuk melindungi anak-anak dari risiko ruang digital. “Untuk anak usia 13 tahun ke bawah, pendekatannya harus berbasis perlindungan penuh. Usia 13–16 tahun dibolehkan memiliki akun di platform digital berisiko rendah, sementara 16–18 tahun wajib dengan persetujuan orang tua. Di atas 18 tahun, regulasi tidak lagi mengatur secara khusus,” ujar Tuaman.

Ia juga menegaskan pentingnya pendekatan preventif melalui tata kelola platform digital yang lebih bertanggung jawab.

Fitra Andika Sugiyono, Perencana Muda di KPPPA, menyoroti tantangan implementasi perlindungan anak. “Minimnya literasi digital, kurangnya fitur keamanan, dan kesenjangan akses memperburuk risiko yang dihadapi anak-anak. Di sisi lain, banyak kebijakan yang belum melibatkan perspektif anak maupun publik dalam penyusunannya,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa peningkatan literasi digital bagi guru dan anak, serta penguatan regulasi dan kebijakan digital, menjadi langkah strategis untuk mewujudkan ruang digital yang ramah anak.

Sementara itu, Andri Kusumo, Program Manager dari Google Asia Pacific, menekankan pentingnya prinsip desain yang mengutamakan keselamatan anak. “Melindungi anak di ruang digital bukan hanya soal larangan, tapi soal bagaimana kita mendesain teknologi yang menghormati, memberdayakan, dan aman sejak awal—safety by design,” ujar Andri.

Ia juga mengenalkan inisiatif Gemini for Kids sebagai upaya menciptakan ruang daring yang lebih layak anak.

Oviani Fathul Jannah dari ECPAT Indonesia memaparkan bahwa kasus kekerasan seksual berbasis online semakin meningkat di Indonesia, menyusul Filipina dan India. “Sayangnya, peraturan yang ada masih terlalu umum dan tidak cukup ‘ramah keluarga’. Bahasa dalam regulasi sulit dipahami, terutama oleh orang tua. Ini menjadi tantangan besar,” ungkap Oviani.

Ia menekankan pentingnya literasi digital bagi orang tua dan peran organisasi masyarakat sipil (CSO) dalam menyuarakan kebutuhan perlindungan anak. “CSO seperti kami juga menyediakan data risiko, memfasilitasi diskusi, dan mendorong partisipasi anak agar mereka bisa jadi aktor aktif dalam perlindungan itu sendiri,” tambahnya.

Diskusi publik ini tidak hanya menjadi ajang tukar gagasan antarlembaga, tetapi juga forum penting untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor demi perlindungan anak di era digital yang makin kompleks. Yayasan Rindang Indonesia memandang acara ini sebagai momen strategis untuk memperkuat pendekatan pembinaan dan pengasuhan yang adaptif terhadap perkembangan zaman.

“Anak-anak remaja saat ini memang di hadapkan dengan era digital dan internet tidak terkecuali di yayasan kami juga hidup dalam dunia digital yang dinamis. Kami sebagai pendidik dan pembina harus memahami lanskap risikonya, dan ikut aktif membentuk ruang digital yang mendukung tumbuh kembang mereka,” tutur Rijal salah satu perwakilan dari Yayasan Rindang Indonesia.

Pada akhirnya, kegiatan ini menegaskan bahwa perlindungan anak bukan hanya tanggung jawab negara, melainkan komitmen kolektif dari keluarga, komunitas, dunia pendidikan, hingga industri teknologi.

Dengan kolaborasi dan kebijakan yang berpihak, ruang digital dapat menjadi tempat yang aman, inklusif, dan memberdayakan bagi seluruh anak Indonesia.

Klenteng Palace Jakarta Rayakan Ulang Tahun ke-24 Dewa Fatchukoung dan Bakti Pengobatan Tradisional

0

Indonesia Sakti, Jakarta Barat – Perayaan ulang tahun ke-24 Dewa Fatchukoung berlangsung khidmat dan penuh nuansa spiritual di Klenteng Palace Jakarta yang berlokasi di Jalan Seni Budaya Raya No. 12, Pasar Medan, RT 5/5 Jelambar Baru, Jakarta Barat, pada akhir pekan ini.

Acara ini dihadiri ratusan umat Tionghoa dari berbagai penjuru Ibu Kota yang datang untuk memberikan penghormatan dan berdoa kepada Dewa Fatchukoung, yang dikenal sebagai dewa keberuntungan, kemakmuran, dan rezeki.

Perayaan ini dipimpin oleh Suhu Wima, pemuka spiritual yang selama ini membimbing umat dalam berbagai aktivitas keagamaan di klenteng tersebut. Ia memandu rangkaian sembahyang, blessing (pemberkatan), serta ritual bakar hio di hadapan altar utama yang mempersembahkan patung Dewa Fatcukoung.

“Sembahyang hari ini adalah bentuk penghormatan dan ucapan syukur atas berkah dan perlindungan yang telah diberikan oleh Dewa Fatchukoung selama ini. Semoga di usia ke-24 ini, energi spiritual Dewa semakin kuat melindungi umat,” ujar Suhu Wima kepada awak media.

Perayaan ini tidak hanya diisi dengan ritual keagamaan, tetapi juga kegiatan pengobatan alternatif yang dibuka untuk umum. Beberapa tabib tradisional hadir memberikan terapi kesehatan holistik seperti totok syaraf, pijat energi, serta ramuan herbal khas Tiongkok kepada umat dan pengunjung.

Menurut panitia acara, pengobatan alternatif ini merupakan bagian dari tradisi panjang komunitas Tionghoa yang menyatukan unsur spiritual dan kesehatan jasmani dalam satu harmoni. “Kesehatan rohani dan jasmani sama pentingnya. Itulah mengapa dalam perayaan ulang tahun dewa, kami juga membuka layanan pengobatan alternatif sebagai bentuk pengabdian sosial,” terang Hendra, salah satu panitia.

Rangkaian acara dimulai sejak sore hari dengan pembersihan altar dan penyusunan sesaji berupa buah-buahan, bunga, dan lilin. Setelah itu, para umat secara bergantian melakukan sembahyang dan membakar hio (dupa) sambil menyampaikan harapan dan doa.

Yang menarik, suasana di dalam klenteng tampak penuh warna dengan ornamen khas Tiongkok, seperti lampion merah, kain sutra emas, serta musik tradisional yang menambah kekhidmatan suasana. Anak-anak hingga lansia turut serta dalam upacara ini, menandakan perayaan ini bukan hanya seremoni spiritual, tapi juga peristiwa budaya yang mempererat komunitas.

“Acara ini juga menjadi ajang silaturahmi antarumat dan memperkuat kebersamaan. Apalagi di tengah kehidupan kota yang makin individualis, acara seperti ini mengingatkan kita akan pentingnya tradisi dan nilai kebersamaan,” ujar Jason, salah satu peserta yang rutin hadir tiap tahun.

Perayaan ulang tahun Dewa Fatchukoung ke-24 ini menjadi bukti nyata bahwa nilai-nilai spiritual dan budaya tetap hidup dan tumbuh subur di tengah masyarakat urban Jakarta. Selain menjadi tempat beribadah, Klenteng Palace Jakarta juga berfungsi sebagai pusat pelestarian nilai-nilai leluhur, yang mengajarkan harmoni, kebajikan, dan keseimbangan dalam hidup.

Lapas Cibinong dan LBH HIR Cibinong Jalin Sinergitas Perkuat Akses Bantuan Hukum

0

Indonesia Sakti, Bogor- Senin (21 juli 2025) Lapas Cibinong dan Lembaga Bantuan Hukum Hade Indonesia Raya (LBH-HIR) Cibinong menjalin kerja sama untuk memperkuat akses bantuan hukum bagi warga binaan. Kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) di Lounge Lapangan Tenis Lapas Cibinong.

Penandatanganan MoU ini dihadiri oleh Kepala Lapas Cibinong, Wisnu Hani Putranto, dan para pimpinan lembaga bantuan hukum, termasuk LBH-HIR Cibinong.

Dalam MoU ini, keempat lembaga bantuan hukum sepakat untuk menyediakan layanan konsultasi, pendampingan hukum, hingga advokasi hukum bagi warga binaan secara berkala dan tanpa biaya.

Saripin, SH, LLM, dari LBH Hade Indonesia Raya Cibinong menyampaikan bahwa kegiatan ini juga wujud dari realisasi UU no 16 tahun 2011 tantangan bantuan hukum.Bahwa kerja sama ini bertujuan untuk memberikan akses keadilan bagi warga binaan Lapas Cibinong. “Kami sepakat untuk menyediakan layanan konsultasi, pendampingan hukum, hingga advokasi hukum bagi warga binaan secara berkala dan tanpa biaya bagi masyarakat yang kurang mampu,” ungkapnya.

Sementara itu, Wisnu Hani Putranto, Kepala Lapas Cibinong, menjelaskan bahwa kerja sama ini diharapkan dapat meningkatkan akses terhadap keadilan bagi warga binaan Lapas Cibinong. “Dengan adanya kerja sama ini, diharapkan akses terhadap keadilan bagi warga binaan dapat semakin terbuka dan merata, sejalan dengan prinsip pemasyarakatan yang berkeadilan dan berorientasi pada pemulihan,” katanya.

Keempat lembaga bantuan hukum yang melakukan kerja sama ini adalah LBH Hade Indonesia Raya, Pusbakum Advokat Indonesia Cibinong, Yayasan Bantuan Hukum Amalbi Cibinong, dan Perkumpulan Lembaga Bantuan Hukum Masyarakat Cibinong Bogor.

Dengan kerja sama ini, diharapkan warga binaan Lapas Cibinong dapat memperoleh akses keadilan yang lebih baik dan lebih merata.

Kepala Badan Kesbangpol Kota Bekasi: “Jadilah Agen Perdamaian”

0

Indonesia Sakti, Kota Bekasi – Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Bekasi, Nesan Sujana, menjadi narasumber dalam Podcast Asistensi Media Nasional (AsMEN) yang tayang pada Senin, 21 Juli 2025.

Dalam diskusi tersebut, ia menguraikan dengan gamblang tentang empat tugas pokok dan fungsi (tupoksi) lembaganya, sekaligus memberikan klarifikasi atas sejumlah isu yang sempat viral dan mengguncang Kota Bekasi.

“Badan Kesbangpol memiliki empat tugas utama, yakni menjaga kesatuan dan keutuhan bangsa, menciptakan stabilitas politik dan keamanan, membina wawasan kebangsaan, serta mengawasi keberadaan organisasi kemasyarakatan dan partai politik,” ujar Nesan.

Dalam kesempatan itu, Nesan juga menanggapi beberapa isu viral yang mencuat dalam satu tahun terakhir. Diantaranya adalah kasus pelarangan ibadah di sebuah gereja oleh oknum ASN, tindak kekerasan oleh seorang anak terhadap ibu kandungnya yang dijuluki “Anak Maling Kundang”, hingga aksi seorang pria berjuluk “Jagoan Cikiwul” yang memaksa meminta Tunjangan Hari Raya (THR) dengan membawa-bawa nama ormas.

“Semua kejadian ini menjadi pengingat bahwa sangat penting bagi masyarakat dan ormas untuk menahan diri, menjaga kerukunan, dan tidak mudah terprovokasi,” tandasnya.

Ia mengungkapkan, saat ini terdapat hampir 200 organisasi kemasyarakatan (ormas) yang terdaftar di Kota Bekasi, dengan lima di antaranya berstatus ‘plat merah’ atau rutin mendapatkan dukungan dana dari pemerintah. Salah satunya adalah AsMEN yang termasuk dalam daftar ormas aktif dan berpotensi menerima hibah, selama memenuhi syarat administratif dan legal.

Kota Bekasi dan Harapan Menjadi Kota Toleran

Nesan menyampaikan harapan agar Kota Bekasi kembali meraih predikat sebagai Kota Paling Toleran versi Setara Institute, sebuah gelar prestisius yang pernah disandang sebelumnya. “Kita punya potensi besar. Ada Kampung Budaya, Kampung Pancasila, dan masyarakat yang majemuk secara agama, suku, dan latar belakang. Tinggal bagaimana kita terus menjaga harmoni ini,” ujarnya optimistis.

Ia menekankan pentingnya peran ormas dan media dalam membina masyarakat, khususnya generasi muda, agar bijak bermedia sosial. Edukasi dan literasi digital, menurutnya, sangat penting untuk mencegah penyebaran hoaks dan ujaran kebencian.

“Di sinilah peran media seperti AsMEN sangat strategis—untuk menghadirkan berita yang mencerahkan, mendidik, dan membangun jurnalisme perdamaian,” tambahnya.

Dukung Kepemimpinan yang Pro-Toleransi

Mengakhiri sesi, Nesan menyampaikan dukungan penuh kepada kepemimpinan Wali Kota Bekasi Tri Adhianto dan Wakil Wali Kota Abdul Harris Bobihoe dalam memperkuat visi toleransi. Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat—dari ormas, pemuda, hingga tokoh masyarakat—untuk menjadi agen perdamaian.

“Kita jaga sama-sama Kota Bekasi. Jangan sampai ada lagi ormas yang justru meresahkan. Jadilah ormas yang menguatkan, bukan memecah-belah,” pungkasnya.

Deputi Penanganan Darurat BNPB RI Sambangi Yayasan Rindang Indonesia, Ada Apa?

0

INDONESIASAKTI, KotaBekasi – Mayjen TNI Budi Irawan, S.IP, M.Si yang baru saja dilantik sebagai Deputi Penanganan Darurat BNPB RI menyambangi kantor Yayasan Rindang Indonesia Jatimakmur Pondokgede Kota Bekasi, Sabtu (12 Juni 2025), dalam rangka menghadiri acara do’a bersama dan santunan kepada anak yatim dhu’afa.

Kegiatan ini turut dihadiri Dewan Penasehat Yayasan, Aswar Wahab Ketua Umum, M. Adhie Pamungkas serta para pengurus dan pengasuh anak-anak yatim dhu’afa.

Dalam sambutannya, Adhie Pamungkas memaparkan sekilas sejarah berdirinya yayasan yang berawal dari kepedulian terhadap pembinaan karakter generasi muda.
Ia menjelaskan bahwa Yayasan Rindang Indonesia berdiri sebagai wadah penanaman nilai spiritual, nasionalisme serta kemandirian generasi muda.

“Yayasan ini dibangun atas semangat gotong-royong dengan tujuan membentuk generasi yang berakhlak mulia, mencintai tanah air dan memiliki bekal keterampilan hidup,” papar Adhie.

Ia juga menekankan tiga aspek utama dalam kerangka program pembinaan anak asuh yang dikenal dengan sebutan “3 is” yakni mendidik kader yang agamais, nasionalis dan berjiwa bisnis.

Ketiga kompetensi dasar tersebut diasah melalui berbagai kegiatan keagamaan, penanaman wawasan kebangsaan serta program kewira usahaan bagi anak-anak binaan.

Dalam acara tersebut juga ditampilkan kemampuan anak-anak asuh binaan dalam membacakan teks Pancasila dalam 4 versi bahasa (Indonesia, Inggris, Arab dan Mandarin) dilanjutkan do’a bersama dengan membacakan surat alfatihah dan asma’ul husna yang dipandu oleh Ustadz Kosasih.

Dalam kesempatan tersebut, Mayjen Budi Irawan didaulat untuk memberikan motivasi kepada anak-anak, ia menekankan pentingnya semangat kebangsaan, disiplin dan kepedulian sosial dalam membangun karakter generasi muda Indonesia.

“Terima kasih anak-anak dan para pengurus yang selalu mendoakan saya sehingga saya mampu menghadapi segala ujian yang berat dalam perjalanan karir saya, sehingga saya dalam posisi sekarang ini, semua tak lain karena izin dan kuasa Allah SWT,” ujarnya.

Acara diakhiri dengan santunan pemberian uang saku dan paket makanan dari Mayjen Budi Irawan kepada sekira 50 anak yatim dhu’afa dilanjutkan dengan sesi photo bersama.

Semoga kegiatan ini membawa berkah dan menjadi inspirasi untuk terus menebar kebaikan ditengah kehidupan bermasyarakat, serta menjadi bukti kongkrit TNI semakin dekat dengan rakyat.

Aswar Wahab, Pengusaha Dunia Akhirat Pembelajar Universitas Kehidupan dan Penjaga Asa Yatim Dhu’afa Indonesia

0

INDONESIASAKTI, Di tengah panas matahari yang menyinari hamparan hijau sawah, tangan-tangan penuh semangat memotong padi yang menguning—simbol keberkahan dari tanah wakaf yang dikelola dengan cinta dan visi besar.

Di antara mereka, tampak sosok yang bersahaja namun penuh wibawa, dialah Aswar Wahab, seorang pengusaha yang tak hanya berpikir tentang keuntungan dunia, tetapi juga investasi akhirat.

Hari itu, di lahan wakaf Cilebar Karawang Jawa Barat, akhir Bulan Juni 2025 Aswar Wahab memimpin panen raya di lahan wakaf produktif Yayasan Rindang Indonesia—sebuah inisiatif luar biasa yang menyatukan visi ketahanan pangan, kemandirian ekonomi, dan kepedulian terhadap masa depan generasi yatim dan dhuafa.

Di hadapan para petani, relawan, dan anak-anak yatim yang hadir, ia menyampaikan pesan kuat tentang pentingnya membangun kemandirian umat melalui pertanian berkelanjutan yang bermanfaat luas.

“Ketahanan pangan bukan sekadar bicara soal beras, tapi soal martabat. Dan wakaf produktif ini adalah ladang amal yang menumbuhkan harapan dan masa depan bagi anak-anak yatim Indonesia,” ujar Aswar Wahab, seraya memandang hamparan sawah yang menguning yang siap dipanen.

Lebih dari sekadar pengusaha, Aswar Wahab juga dikenal sebagai sosok yang menjadikan harta dan waktunya sebagai wasilah untuk kebaikan. Ia adalah pendiri Masjid Al Wahab, rumah ibadah yang tak hanya digunakan untuk salat, tapi juga pusat pemberdayaan sosial, pendidikan dan kebudayaan.

Bersama keluarga besarnya yang sangat mendukung kegiatan kemanusiaan, Aswar terus aktif mendukung program-program Yayasan Rindang Indonesia dalam memberdayakan yatim dan dhuafa—dari pendidikan, pelatihan keterampilan, hingga penguatan ekonomi berbasis wakaf produktif pertanian.

Dalam kesederhanaannya, beliau menjadi teladan nyata bahwa kesuksesan sejati bukanlah tentang seberapa banyak yang kita miliki, tapi seberapa besar manfaat yang kita berikan.

Di lahan wakaf itu, padi yang tumbuh bukan sekadar sumber makanan, tapi lambang cinta, kepedulian, dan harapan yang ditanam untuk masa depan bangsa.

Bagi anak-anak yatim itu, Aswar Wahab bukan hanya sekadar donatur. Ia adalah “Bapak Panutan” yang mengajarkan mereka bahwa dunia ini luas untuk dijelajahi, dan akhirat terlalu mulia untuk dilupakan. Ia percaya, generasi yatim adalah aset, bukan beban. Mereka bukan hanya perlu disantuni, tapi diberdayakan agar kelak menjadi pemimpin yang kuat, cerdas, dan berakhlak.

Dari sawah hingga masjid, dari lahan wakaf hingga pelukan hangat untuk anak-anak yang tak lagi punya orang tua—Aswar Wahab menenun kebaikan dalam setiap langkahnya. Karena baginya, hidup yang baik adalah hidup yang memberi arti. Dan warisan terbaik bukanlah kemewahan, tapi jejak kebaikan yang terus tumbuh dari setiap benih yang ia tanam, di dunia maupun di akhirat.

Generasi Muda MPK Yayasan Rindang Indonesia Sukses diwisuda sebagai Komcad SPPI Batch 3

0

INDONESIASAKTI, Surabaya — Suasana semangat nasionalisme membuncah di Pusat Pelatihan dan Pendidikan Dasar Militer (Puslatdiksarmil) Juanda, Surabaya, saat berlangsung penutupan pelatihan dasar militer dan pelatihan manajerial bagi Komponen Cadangan (Komcad) Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Batch 3, Sabtu 12 Juli 2025.

Agenda penting ini adalah bagian penting dari program strategis nasional Makan Bergizi Gratis (MBG), yang tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi generasi muda, tetapi juga penguatan karakter dan ketahanan nasional melalui kaderisasi calon pemimpin bangsa.

Puluhan peserta yang telah menyelesaikan rangkaian pelatihan intensif selama beberapa pekan resmi ditetapkan sebagai Komcad SPPI Batch 3. Mereka dibekali materi pelatihan dasar militer, keterampilan manajerial, serta nilai-nilai kepemimpinan dan nasionalisme.

Penutupan berlangsung meriah dan penuh semangat dengan berbagai demonstrasi keterampilan militer, seperti baris-berbaris, atraksi ketangkasan bela diri karate, serta yel-yel khas militer yang membakar semangat.

“Kegiatan ini bukan hanya mencetak Komcad yang tangguh secara fisik, tetapi juga siap menjadi penggerak perubahan di tengah masyarakat,” ujar salah satu instruktur pelatihan.

“Kalian adalah Komponen Cadangan yang langsung dibawah kementerian Pertahanan Republik Indonesia dan Markas Besar Tentara Nasional Indonesia, untuk itu kalian harus siap jika nanti negara membutuhkan dan memanggil kalian”, tambahnya.

Program ini merupakan wujud nyata kolaborasi antara unsur pertahanan dan pembangunan sumber daya manusia, dimana para peserta diharapkan mampu menjadi motor penggerak ketahanan pangan dan gizi di daerah masing-masing, sejalan dengan semangat “Bergizi, Mandiri, dan Siap Mengabdi”.

Dengan penutupan pelatihan ini, Komcad SPPI Batch 3 resmi menjadi bagian dari kekuatan cadangan bangsa yang siap dikerahkan saat negara memanggil, sekaligus menjadi agen perubahan di masyarakat melalui program-program kerakyatan.

Diantara peserta, Syamsul Al Alam Al Fatah, kader muda Milenial Peduli Kemanusiaan Yayasan Rindang Indonesia (MPK-RI) yang berasal dari daerah pendaftaran Sukabumi, Jawa Barat, mengungkapkan rasa syukur dan kebanggaannya lolos seleksi dan mengikuti pelatihan ini hingga tuntas.

“Saya bersyukur sekali bisa menjadi bagian dari Komcad SPPI Batch 3. Ini adalah pengalaman yang sangat luar biasa, penuh tantangan, tapi juga penuh pembelajaran. Harapan saya, ilmu dan disiplin yang saya dapatkan selama pelatihan bisa saya praktikkan langsung di masyarakat, menjadi contoh yang baik, dan memberikan dampak positif, baik untuk lingkungan sekitar maupun untuk Indonesia secara keseluruhan,” ujarnya dengan penuh semangat.

How to Think and Act in the Plummeting Stock Market

0

People live better in big houses and in big clothes. I try to contrast; life today is full of contrast. We have to change! I am not interested in the past, except as the road to the future. Give me time and I’ll give you a revolution. I think the idea of mixing luxury and mass-market fashion is very modern. I want people to be afraid of the women I dress.

Mass-market fashion is very modern

I think the idea of mixing luxury and, very now no one wears head-to-toe designer anymore. There has to be a balance between your mental satisfaction and the financial needs of your company. A girl should be two things: classy and fabulous.

Newspaper WordPress Theme
Happy girl opening her present

I never look at other people’s work. I can’t get sucked into that celebrity thing, because I think it’s just crass. Give me time and I’ll give you a revolution. I can’t get sucked into that celebrity thing, because I think it’s just crass.

I can design a collection in a day and I always do, cause I’ve always got a load of Italians on my back, moaning that it’s late. Sometimes the simplest things are the most profound.

Newspaper WordPress Theme
Looking to the future with optimism

Luxury will be always around, no matter what happens in the world. There is always the new project, the new opportunity. Attention to detail is of utmost importance when you want to look good. I have a fantastic relationship with money. I use it to buy my freedom.

I think the idea of mixing luxury and mass-market fashion is very modern, very now no one wears head-to-toe designer anymore. I think the idea of mixing luxury and mass-market fashion is very modern, very now no one wears head-to-toe designer anymore.

Confidence. If you have it, you can make anything look good. Abstinence from coffee, tobacco. Adventists has afforded a near-unique opportunity.

Clothes can transform your mood and confidence

I think the idea of mixing luxury and mass-market fashion is very modern, very now no one wears head-to-toe designer anymore. I want people to be afraid of the women I dress. Elegance isn’t solely defined by what you wear. Clothes can transform your mood and confidence.

Fashion moves so quickly that, unless you have a strong point of view, you can lose integrity. I like to be real. I don’t like things to be staged or fussy. I think I’d go mad if I didn’t have a place to escape to. You have to stay true to your heritage, that’s what your brand is about.

Newspaper WordPress Theme
People out on the streets again

Elegance is not the prerogative of those who have just escaped from adolescence, but of those who have already taken possession of their future.

Fashion fosters cliches of beauty, but I want to tear them apart. Every day I’m thinking about change. The only way to do something in depth is to work hard. For me, art is about learning. I’ve always tried to push myself technically and to push myself visually. That’s been part of the journey. I adore the challenge of creating truly modern clothes, where a woman’s personality and sense of self are revealed.